Belajar dari Tukang Parkir
Tidak Ada Pekerjaan Halal yang Hina. Seburuk-Buruk Pekerjaan
Adalah Pekerjaan yang dilakukan Dengan Niat yang Jelek dan dengan Cara-cara yang
diharamkan Oleh Allah swt. Dan Sebaik-Baik Pekerjaan Adalah Pekerjaan yang
dilakukan dengan Niat yang Baik dan dengan Cara-cara yang diridhai Allah swt.
“Muhaji Said Al-Muhajirin”
Siapa sih yang tidak kenal dengan yang namanya
tukang parkir. Penulis yakin bahwa semua orang mengetahuinya. orang yang berdiri
di pinggir jalan sambil meniup sebuah sempritan, memberikan kode dengan
lambaian tangan. Mengarahkan kendaraan yang tinggal dan lalu lalang. Hidupnya
selalu di habiskan hanya di pinggir jalanan, bajunya robek, topinya kusut dan
bentuk pakaian yang tidak terawat. Mungkin itulah yang terpikir dan terbayang
ketika kita lihat dan bayangkan yang namanya tukang parkir.
Selama ini mungkin kita beranggapan, bahwa menjadi
tukang parkir adalah pekerjaan yang kurang terhormat. Kurang bagus, enggak
layak, bahkan banyak juga diantara kita menganggapnya sebagai suatu pekerjaan
yang hina, yang tidak bernilai harganya. Akan tetapi jangan salah, tukang parkir
itu punya filosofi yang bisa kita ambil untuk menjadi pelajaran hidup di dunia
ini.
Catatan besar bagi kita semua. Tidak ada
pekerjaan halal yang hina, seburuk apapun pekerjaan, namun jika itu halal. Maka
itu adalah mulia. Bahkan lebih terhormat berdiri menjadi tukang parkir di
pinggir jalanan daripada duduk-duduk di atas kursi pejabat yang hanya suka
menggerogoti uang rakyat.
Catatan
Buat orang yang suka korupsi, mencuri, mengambil hak
orang lain hati-hatilah anda, cepatlah anda bertobat sebelum ajal menghambat.
kelak orang yang suka menggrogoti uang
rakyat, suka mengambil hak orang lain, ia akan di bangunkan dari kuburnya oleh
Allah swt dipadang mashyar seperti muka dan kepala tikus, badannya badan
manusia namun kepala dan mukanya seperti TIKUS. Ini di sebabkan ketika hidup di
dunia ia suka mengambil barang yang di simpan rapi-rapi.
Salah satu pembantu Rasulllah saw yang dihadiahkan
oleh Rifa’ah bin zaid, saat menempuh perjalanan bersama Rasulullah saw menuju
sebuah daerah. Tiba-tiba ia berhenti sejenak guna untuk beristirahat. Setelah
pembantu tersebut meletakkan perbekalan Rasulullah, tiba-tiba ada anak panah
yang meleset tepat pada arahnya sehingga akhirnya ia meninggal dunia.
Hingga seorang sahabat mengatakan alangkah
bahagianya dia karena akan mendapatkan surga, mendengar itu kemudian Rasulullah
saw bersabda “Sekali-kali tidak, demi dzat yang dijiwaku berada di tangan-Nya,
lilin ghanimah yang belum dibagikan yang dicurinya dalam perang khaibar akan
menjadi api neraka yang membakarnya (HR. Bukhari Muslim)
Sahabatku.
Seseorang yang sudah dianggap oleh sahabat
sebagai ahli surga, menjadi pembantu Rasulullah, yang menyaksikan shalat dan
puasa Rasulullah, yang selalu mendengar nasehat-nasehat beliau, yang menuangkan
air wudhu untuk beliau, namun itu semua tidak mampu untuk membayar satu
kesalahan yang ia lakukan saat perang khaibar yakni mencuri sebuah lilin.
Lalu pertanyaan bagi pribadi kita
masing-masing sudah berapa banyakkah perbuatan jahat yang kita lakukan ? Berapa
banyak hak orang lain yang kita rampas ? Berapa banyak uang-uang rakyat yang
kita ambil? Lalu bagaimana mungkin dirimu engkau anggap akan masuk surga.
Iblis keluar dari surga karena satu kesalahan
yang ia lakukan. Nabi Adam a.s, keluar dari surga karena satu kesalahan yang ia
perbuat. Seorang wanita di masukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang
ia kurung dan tidak di beri makan lalu mati. Seorang bisa dihukum campuk karena
menuduh orang baik-baik berzina, pencuri di potong tangannya karena ia mengambil
uang sejumlah tiga dirham
Lalu bagaimana dengan kita yang selalu
melakukan dosa demi dosa. Bukan hanya satu, dua, atau tiga jenis perbuatan jahat.
Namun sungguh sangat banyak yang kita lakukan, suka mengambil hak orang lain, durhaka,
merampas, menzdolimi, mencuri, berzina, minum khamar, fitnah dan lain
sebagainya. Lalu bagaimana mungkin surga akan kita raih. Yuk cepat-cepatlah
bertobat sebelum ajal menghambat.
Baiklah kita kembali pada topik awal yakni
Tukang Parkir.
Sekali-kali cobalah anda merenung. Jika kita
pikir-pikir. Memang Hidup itu enaknya seperti tukang parkir. Mengapa penulis
katakan demikian karena tukang parkir walaupun banyak kendaraan yang datang
diparkirannya ia tidak pernah merasa sombong. Bahkan setelah kendaraan itu satu
persatu pergi meninggalkannya ia tidak pernah merasa sedih. Mengapa ? Karena
tukang parkir itu merasa di titipi bukan memiliki. Karena siapa-siapa yang
merasa memiliki pasti akan takut kehilangan. Apapun yang di miliki oleh manusia
baik yang ada pada dirinya maupun yang di luar dirinya pasti ia merasa takut
untuk kehilangan.
Maka Pelajarannya adalah apapun yang kita miliki di atas dunia ini maka
anggaplah sebagai sebuah titipan dari Allah swt, yang harus kita jaga dan
syukuri. Harta adalah titipan, dan harta engga’ boleh bikin kita jadi orang yang
sombong, baru punya motor sudah sombong, sama tetangga engga’ mau saling sapa,
baru punya mobil waduh jalannya kayak dia yang punya.
Demikian pula dengan seorang anak ia adalah titipan
dari Allah swt yang harus kita jaga, rawat dan bimbing. Seumpamanya Allah swt menitip
tiga anak didalam rumah kita. Yang satu pencuri, yang satu lagi perampok, dan
yang satu adalah pemabuk. Apakah Allah marah? Tentu Allah pasti marah. Sebab anak
adalah amanah yang harus kita jaga.
Ibarat
kita menitipkan sebuah barang kepada seseorang. Pada saat barang itu sudah mau
kita ambil. Lalu barangnya sudah tidak karu-karuan lalu bagaimana perasaaan
kita. Tentunya pasti marah. Maka tidak ada bedanya sama Allah. Pasti juga
marah. Titipan enggak boleh bikin kita jadi sombong tapi titipan harus kita
jaga dengan sebaik-baiknya

Silahkan belajar dlu akad jual beli jasa dalam islam, karna parkir itu termasuk dalam jasa. Dri situ bisa dilihat bagaimana jasa parkir itu bisa dikatakan halal, dan bagaimna bisa dikatakan haram
BalasHapus